Propellerads

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Thursday, June 23, 2016

Band Indie : Hopewasteland EP

Notification di emailku dari ripstore.asia, mengarahkan pada linknya. Bagi pembaca, Ripstore.asia adalah Cloud download musik-musik indie secara gratis.

Dalam lamannya, ripstore.asia menyebut : "Sebarkan Musikmu ke Seluruh Dunia.Ripstore membantu Anda merilis lagu di iTunes, Deezer, Spotify dll. Jutaan lagu di toko musik digital terjual setiap harinya.

Pastikan para calon fans baru menemukan musik Anda di tempat yang tepat."

Awal aku tertarik ketika Sinestesia, Efek Rumah Kaca merilis albumnya di web tersebut. Aku lalu menuju link tersebut dan mendownloadnya.

Hopewasteland (foto dalam file rar)
Aku pun disarankan untuk login ke laman tersebut, sebelum mendownload. Kemudian bergabung milis mereka. Secara bertahap ripstore.asia akan mengirimkan pesan-pesan ke pengguna lainnya. Termasuk mempromosikan band indie baru.

Aku ingin cerita dapat unduhan gratis, dari band bernama Hopewasteland EP. Hopewasteland EP adalah debut mini album self-titled duo Khairina Apsari dan Nur Fitrah berisi 4 track manis yang memadukan soft-pop, ambient dan intrumental dalam balutan narasi putik berbahasa Indonesia yang kontemplatif. Saya pun menuju ke link http://release.ripstore.asia/hopewasteland/ dan disuruh mengisi form yang disediakan website tersebut. Beberapa pertanyaan dalam kolom pun tak boleh kosong.

Dengan isian 4 nomor, dua instrumen dan dua musik full, Hopewasteland EP mengajak pendengar pada musik pop, yang menyerupai musik, era 70an. Mini album itu diisi dengan track track bernas yang berjudul “L/Mono”, “Walau Hitam Tiada Suram”, “Bisu Samar”, dan “Magnifique”. Dibentuk pada Desember 2015, terdiri dari Nur Fitrah Hidayat (programmer) & Khairina Apsari Putri (vocal). Dan pada Minggu, tanggal 29 Mei 2016, album 'Bertapa' dirilis.
Jika ingin mendownload sila mampir ke sini. Atau ke sini.
Didalam link rar tersebut ada petunjuk penggunaan yang disarankan oleh ripstore.asia. Jika berkenan silakan download
Lirik dalam file .rar

Wednesday, June 22, 2016

Jika Aku Berhenti Mencintaimu


Tak ada makhluk lain di sisimu
Tak ada gerak yang bergerak dalam nadirmu
Tak ada air yang mengisi kerongkonganmu
Tak ada gunung yang kau daki
Tak ada alam yang satu, bersetubuh denganmu

Jika aku berhenti mencintaimu
Gerakmu sejak berhenti
Alam aku perintah tak cukupimu
Putaran bumi sejenak berhenti
kau akan diam
Lalu memintaku dengan persembahan tersembunyi


Tapi kau lupa mencintaiku
Dengan kesantunanmu
Dengan damainya waktu
Hingga aku tak berhenti mencintaimu




Thursday, June 16, 2016

Aku Penuhi Janjiku, Kak.

Perkenalanku dengan seseorang membuatku makin erat. Kali pertama konser di Yogyakarta, hampir delapan tahun di salah satu Stadion kota tersebut. Aku tak menyangka jika akhirnya hubungan ini berlanjut hingga lama.

Kakak beradik, Clara dan Betty, yang berasal dari Sidoarjo, Jawa Timur. Mereka pegiat dan juga perintis komunitas Sheilagank 7 Jawa Timur.
Sebenarnya aku tak menyadari jika kak Clara dan kak Betty, saudara sekandung. Aku mengetahui hal itu setelah konfirmasi beberapa teman.

Hubungan pertemanan ini kurasa biasa. Seperti teman lainnya. Perbedaan usia dengan mereka membuatku berjarak. Kami sering berkomunikasi melalui sosial media : Facebook, twitter dan lainnya. Sekadar bertanya kabar. Bahkan sebagai ucapan terima kasih atas pertemanan ini. Maka catatan ini bagian tribute for them.

Aku cerita tentang kak Clara. Wanita  ini sering dipanggil mama Clara, oleh kawan seperjuangannya di komunitas. Dia bagai ibu yang ayomi anak ketika dia jadi komunitas. Hubungan pribadiku dengan cukup baik. Kadang jika aku sms atau tanya melalui telepon, sering kupanggil Mama juga.

Kami saling terhubung satu sama lain antar Sheilagank basecamp : Semarang dan Jawa Timur, atau kota lainnya. Tahun 2008 hingga 2012 kita sering bertemu setiap konser di Yogyakarta. 

Pernah suatu kali kami terlibat bersama dalam pembuatan Video Klip "Mudah Saja" Sheila on 7 pada April 2009. Kami sama-sama melihat proses pembuatan Video Klip tersebut. 

Dia pun akhirnya berpacaran sesama Sheilagank. Vai, temanku dari Kudus. Kebetulan di tahun itu kami juga buat nama untuk komunitas di Kudus. 

Kakak beradik itu sering datang ke Yogyakarta. Dua orang ini jauh-jauh dari Surabaya, bersama beberapa temannya yang lain, datang untuk menikmati konser dan silaturahmi. 

Lebih dari lima tahun pacaran. Mama (Clara) dan Vai memilih menikah. Pernikahan mereka berlangsung di Surabaya 30 Agustus 2014. Menyenangkan jika antar komunitas saling menikah. Ibarat sebuah puzzle, satu persatu, tersusun dalam sebuah bangunan.

Sayangnya, ketika mereka melangsungkan aku tak datang. Karena beberapa hari sebelumnya salah satu kakak kandung menikah. Sebetulnya aku telah pamit pada orangtuaku. Agar aku bisa ke Surabaya. Tapi orangtua tak beri izin. Aku turuti perintahnya Karena aku diundang pernikahan mama Clara, namun aku tak hadir. Aku mengucap janji pada diriku. Jika kelak adiknya menikah aku akan hadir. Bagaimana pun nantinya aku ke Surabaya atau Sidoarjo.

Pernikahan mama Clara ( facebook/ Fadhila Nur Husna)


Menepati Janjiku.

Karena  janji itu aku benar-benar menunggu kabar baik kak Betty. Kami dekat tidak secara personal. Tetap lebih keinginanku untuk jaga silaturahmi dan pertemanan. Membuatku ingin sekali menghadiri pernikahan. Aku menunggu kabar baik itu.

Melalui pesan line dia pun mengirimkan undangan pernikahannya. Dia dinikahi oleh pria bernama Samanta. Teman karibnya sejak lama. Pesan line itu dikirim pada awal Januari 2016. Aku senang kabar itu. Kak Betty melangsungkan resepsi dan akad nikah pada 16 Januari 2016. Akad nikah berlangsung di rumahnya di Sidoarjo, Sementara resepsinya di masjid Agung Surabaya.

Aku tanya ke dia : teman di Semarang yang diundang siapa?. Maksudku tanyakan itu karena nanti ada teman yang bersamaku. Dia menjawab : " aku juga mengundang Catur, dek." tulisnya di Line. Catur, salah satu teman yang juga pernah jadi ketua komunitas di Semarang. 

Aku pun mengontak Catur. Memastikan kehadirannya di Surabaya. Dia setuju. Kami pun janjian berangkat menggunakan Kereta Api. Saya pun memesan 2 tiket berangkat, tapi tak pesan tiket pulang. Karena uangku kurang untuk membayar 4 tiket pulang pergi. 

Kami pesan tiket tanggal 16 Januari 2017 pukul 11.45 dari stasiun poncol. Resepsinya pada pukul 19.00, kami masih punya beberapa jam di Stasiun Turi, Surabaya.
Saya, Vai, Catur, Miftah dan Nozha Mbah ( instagram/vai)


Aku dan Catur bersama pengantin (WhatsApp/Betty)
Kebersamaan kami dan Sheilagank Jatim (facebook/ Emmy Kurniati)


Sehari di Surabaya

Sabtu 16 Januari 2016, Kami berangkat. Sebetulnya aku kurang yakin siang itu. Aku keluar dari asramaku pukul 10.00-an. Cukup banyak waktu untuk menunggu Catur, yang dari Kab. Grobogan, sampai di stasiun. Tetapi saat aku sampai stasiun 10.30, Catur belum beri jawaban. 

Karena aku tak biasa sarapan.
Aku menuju minimarket stasiun untuk membeli air mineral dan roti. Cukup untuk mengganjal perutku hingga sore nanti. Aku amati sekitar stasiun, sembari mengecek smartphoneku. Menunggu Catur datang. Dia memberi informasi kedatangannya. Tapi akan sampai stasiun mepet. 

Pukul 11.35, aku makin cemas. Catur belum tiba juga. Padahal 10 menit kereta akan berangkat ke Surabaya. Aku pun menuju security di pintu masuk. Aku berbincang dengan petugas tersebut. Dan menyampaikan maksudku. Aku berpesan : "pak jika ada orang dengan nama yang tertera di tiket ini, mohon berikan. Sudah aku telepon orangnya". Petugas itu pun mengiyakan.

Sepuluh menit lagi kereta api akan berangkat. Antrian di pintu masuk menuju kereta api agak padat. Aku tinggalkan tiketku ke petugas tadi. Aku masuk ke gerbong 1 di nomor 11, dan Catur 12. Kami bersebelah. Tetapi ketika PPKA meniup peluit panjangnya. Catur belum masuk ke gerbong. "Mati aku... Catur ketinggalan" batinku.

Pukul 11.47 Catur menelpon di WA. "Aku sudah sampai depan pintu masuk. Kamu di mana?" tanyanya. "Kereta telah jalan. Kamu terlambat beberapa detik. Tiketmu aku titipkan sekuriti depan. Kamu minta dia" samar-samar dia juga berbicara pada security tadi. "Kalau kamu mau naik, ke Tawang saja. Kamu kita ketemu di gerbong" lanjutku. Beberapa penumpang mendengar suaraku yang agak tinggi di gerbong. "Oke, ketemu di Tawang ya." jawabnya.

Aku lemas dan makin cemas. Jika Catur tak ke Tawang. Karena saya bakal sendiri ke Surabaya. Tiketnya hangus dan bakal rugi besar. Jarak Poncol - Tawang, hanya beberapa ratus meter. Aku harap dia sampai Tawang tak lebih lima menit. Karena transit kereta api, juga tak bakal lama. Aku hibur diri dengan membaca buku. Aku lupa judulnya apa. Karena beberapa bukuku hanya berserakan di lemari. Tanpa ada kelanjutan membaca hingga tuntas.

Tiba-tiba smartphoneku berdering. Catur menelponku. "Aku sudah di gerbong. Kamu dimana?" sambungnya di telepon " gerbong depan. Cari kursi agak depan ya. Aku di sana." jawabku. Beberapa detik kemudian aku berdiri sambil mencarinya. 


"Alhamdulillah, kamu sampai juga" batinku. Kami bersalaman. Lalu bercerita banyak. Nostalgia di komunitas Sheilagank Semarang beberapa tahun lalu. Dia pun bertanya perkembangan komunitas tersebut. Kemudian dia memberi saran untuk ke depan. Aku ambil buku untuk mencatat ucapannya. Tahun ini komunitas tersebut berusia 8 tahun. Dia memberi ide untuk ulang tahun.

Setelah bercerita banyak tentang itu. Kami diam sejenak. Aku lebih tertarik hijaunya sawah di sepanjang kanan kiri rel kereta api. Desa-desa di sepanjang Semarang-Surabaya yang kami lalui memang kaya hasil pertanian.

Kereta api berhenti sejenak menaik turunkan penumpang di Stasiun : Ngrombo ( Grobogan ), Cepu (Blora), Bojonegoro, Babat , Lamongan dan Stasiun Besar Pasar Turi ( Surabaya ). Pegawai kereta juga nampak berlalu lalang : menyewakan bantal, jual makan dan mengecek tiket penumpang. 

Namun nasib kami agaknya kurang baik. AC kereta api mati sejak di stasiun Cepu. Tepat di atas depan tempat duduk kami. Saya dan Catur masih belum merasakan kegerahan karena kami asyik bercerita dengan sebelah kami. Tetapi penumpang yang duduk di deret kursi kami tampak geliat kurang nyaman.
Kami masih asyik saja. Belum kegerahan. Penumpang lain mulai mengipasi badannya dengan koran dan kipas dari bambu. Kami menunggu pegawai kereta api yang bertugas memaintenance. Untuk segera memperbaiki AC tersebut.

Karena kewalahan dan perlu dimaintenance di Stasiun, pegawai tersebut menawarkan kami pindah di gerbong lain. Kami setuju atas saran tersebut. Kami pindah sebelum memasuki stasiun Babat, Lamongan

Kereta berhenti agak lama ketika mendekati Stasiun Lamongan, di persimpangan rel kota. Karena rel lebih tinggi dari jalan dan agak miring beberapa derajat. Kereta kami berhenti hampir 20 menit, karena dari arah Surabaya kereta lain akan melintas. 

Kami di dalam gerbong agak terganggu setelah seorang pria berteriak meniru lagu yang dia dengar melalui smartphone-nya. Suara falsnya membuatnya harus kena marah sekitar gerbong ini.

Seorang pria paruh baya, duduk disamping kami. Kami sapa dia dan mengakrabinya. Kami lalu bertanya : "pak, dari Stasiun Pasar Turi ke masjid Agung Surabaya (resepsi kak Betty), enaknya naik apa?" (jujur kami buta jalan kota Surabaya ). Si bapak beri arahan jalan. Dan dia kasih alternatif untuk naik taksi. Kami mengiyakan.

Si bapak kemudian bercerita masa lalunya di Semarang. Dia menyebut nama-nama daerah di masa mudanya. Usahanya berupa besi tua dan rongsokan. Kami tak salah orang. Dia baik hingga kami sampai Surabaya ditawarkan untuk naik taksi.

Macetnya kereta api di sekitar Lamongan hingga puluhan menit jadi tidak terasa. Setengah jam lagi sampai di stasiun pasar Turi, ungkap si bapak.

Kami menikmati perjalanan ini dan sesekali bercerita jika nanti di Surabaya. Pulang dari Surabay baru dirancang saat itu. Alternatif kami hanya dua : naik kereta api atau bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP).

Setelah kereta jalan memasuki stasiun Lamongan, lanjut menuju stasiun Pasar Turi, Surabaya. Namun agaknya jadwal kereta api ini terlambat setengah jam dari jadwal semestinya. 

Lima menit sebelum masuk Stasiun Pasar Turi, tampak bangunan 'agak kumuh' warga di pinggir rel. Jika begini aku ingat kota-kota besar lain. Setiap Kota besar memiliki masyarakat miskin yang tinggal di bangunan kumuh.

Kami sampai di stasiun Pasar Turi, Surabaya. Bapak di sebelah tempat duduk kami kemudian mengajakku keluar dari gerbong. Kami membuntutinya. Dia mengarahkanku ke taksi, sebelum mengambil motor yang dia titipkan di stasiun. Kami patuh. Tapi tak langsung ke taksi tersebut.

Calo, tukang becak dan taksi juga menawariku. Kami belum merespon. Kami masih punya banyak waktu untuk berpikir. Naik taksi atau bus kota. Bus kota tak melewati Masjid Agung Surabaya, saran tukang becak yang bicara pada kami. Tukang becak terus mengikuti kami agar kami naik becaknya. Kami hiraukan dengan alibi ambil uang di ATM. Tapi tetap saja dia menungguku. 

Di ATM salah satu sudut Stasiun ini, kami masih ditunggui. Setelah Catur selesai mengambil uang, dia pun keluar ATM. Kami temui tukang becak dan ucapkan terima kasih, sembari beri uang Rp 10000, karena telah menungguku, tetapi kami tolak.

Di lain sisi, supir-supir taksi juga menawariku. Kami tawar harga hingga setuju di angka Rp.70.000 untuk jarak Stasiun Pasar Turi sampai Masjid Agung Surabaya. Kami pun masuk dan naik tak di tersebut. Tak kusangka ketika kami masuk di mobilnya, bukan taksi umum : blue bird atau lainnya. Tetapi taksi dari koperasi stasiun.


Lebih dari sepuluh menit kami sampai di masjid Agung Surabaya. Kami kemudian melihat lihat. Beberapa rombongan jamaah juga tampak memakai baju putih. Aku mengira akan ada pengajian. Kami kemudian masuk dan mencari tempat resepsi, yang akan dimulai pukul 19.00 WIB. Kami menuju ke selatan dan menemukan bingkai ucapan yang ditujukan pada kak Betty. Kami memastikan kembali undangan itu pada layar smartphoneku. Dan benar di gedung lantai dua masjid ini, resepsi akan berlangsung.

Ketika kami akan menuju gedung, kami melihat Vai. Dia sibuk membawa paketan dan bungkusan untuk resepsi. Kami sapa dia, dan dia meminta kami membantunya. 

Kami yang agak kumal karena perjalanan Semarang - Surabaya 5 jam. Kemudian mencari kamar mandi. 

Setelah mandi, azan maghrib berkumandang. Kami menuju masjid di bawah gedung ini dan bergegas ikut jamaah. 

Masjid ini menampung ribuan jamaah. Ada beberapa takmir masjid yang mengarahkan jamaah untuk merapikan shaf. 

Setelah salat kami kemudian berpikir ulang. Pilihan kami mengecek jadwal kereta api dalam smartphone atau pergi ke terminal Bungurasih. Website PT. KAI menunjukkan ada bangku kosong. Kami cari minimarket di sekitar masjid. Kami jalan sekitar 500 meter menuju perumahan setelah bertanya pada warga sekitar. 

Kami kemudian memesan dua tiket pulang ke Semarang. Beruntung beberapa jam sebelum kereta api berangkat masih bisa dipesan. Padahal jika di jadwal kereta api jurusan lain, harus dua hari sebelum keberangkatan.

Kami kembali ke resepsian. Tampak mulai ramai tamu undangan. Kami bertemu kembali Vai dan Mama. Dia menunjuk ke arah kami, dan mengatakan kepada kak Betty : "lihat ke sana, siapa tuh yang datang?". Dengan wajah sumringah kak Betty tersenyum kedatangan kami. Kami kemudian bersalaman dan mengucap terima kasih kedatangan kami. Hal yang sangat membanggakan pertemanan kami. Datang dari jauh dan membuatnya tersenyum.

Kami menuju photo booth yang disediakan, mengingat acara belum dimulai. Tampak puluhan orang mengikuti upacara ini dengan menunggu pengantin masuk ke ruang resepsi. Kami kemudian ikut antri setelah berpoto.

Sampai setelah diatas panggung kami dihentikan oleh kak Betty. Dia meminta kami berhenti sejenak dan meminta fotografer : "mas tolong fotokan kami. Dia datang datang dari Semarang". Antrian di belakang kami kemudian berhenti sejenak memberi waktu pada kami.

Kami kemudian bersalaman. Dan menuju sajian pernikahan ini. Dan menunggu teman-teman Sheilagank 7 Jawa Timur. Tampak Fadhila, Galih, Dita, Emmy, Nozha mbah dan lainnya.

Musik yang disajikan pun tak lengkap jika tak ada Sheila on 7 dalam list ini. Hari Bersamanya, Kisah Klasik dan lainnya. 

Kami pun bertemu dan saling sapa antar komunitas. Sheilagank Semarang dan Sheilagank 7 Jawa Timur. Sebelum acara selesai kami pun diminta bernyanyi. Tiga sampai lima lagu turut menutup acara ini. 

Pulang dari Resepsi

Pesta pernikahan usai. Kami yang tadi menikmati jamuan, berpoto dan bernyanyi bersama-sama, harus berpisah dengan teman-teman. Kami pun akan melanjutkan perjalanan pulang. Tiket kereta yang berangkat dari stasiun Pasar Turi, Surabaya menuju Poncol, Semarang sudah kubeli. Jadwal di kereta api menunjukkan pukul 06.00 pagi. 


Kami berdua berembuk dan memohon pada Vai, kakak ipar Kak Betty, Suami mama Clara, untuk mengantarkan kami ke stasiun. Kami akan tidur malam di stasiun. Tetapi Vai mencegah kami, dia meminta kami mampir di rumahnya. Kami menolak tawarannya, dengan berbagai alasan. 

Setelah berembuk, kami membantu bawa pernak-pernik resepsi di mobil. Mobil yang akan mengantarkan kami. Setelah semua beres, orangtua, mama Clara, dan kak Betty pulang. Tetapi hanya kami berempat : Aku, Catur, Samantha, dan Vai, dan beberapa barang yang belum dibawa pulang. Kami duduk diantara tangga halaman masjid, sambil menunggu mobil itu kembali.

Kami banyak mengingat masa-masa 2008-2010. Kabar Sheilagank dan Sheila on 7, materi wajib yang diceritakan. Tak jauh itu, tiba-tiba Vai : "Aku tuh kangen Semarangan, kangen angkringan dan pernak perniknya." Nostalgia dia ketika jadi mahasiswa di Semarang. "Malam kalau lapar pergi ke luar cari makan, ya di angkringan. Di Jawa Timur, kalau pulang kerja pas malam mampir ke angkringan susah. Rata-rata warung kopi." cerita Vai. "Memang aku juga kalau ke Lamongan  mau makan di angkringan hampir tiada." timpalku. Canda dan cerita lampau yang kami rasakan makin akrab. Kami kemudian bercerita lain hingga tak terasa mobil yang kami tunggu tiba.

Setelah beres, kami diantar ke stasiun oleh Vai dan rombongan. Kami juga berucap terima kasih. Mereka pun begitu. 

Di stasiun, kami bengong. Sempat mikir sejenak mau ngapain. Tidur diantara kursi tunggu atau begadang di salah satu sudut minimarket. Catur memilih ke minimarket. Dan kami pun melangkahkan kaki di sana. Kami duduk di depan minimarket ini. Sambil menunggu pagi, kami nikmati kopi yang kami pesan di minimarket tersebut.(minimarket tak bisa kutolak, jika di dalam stasiun. Mencari warung kopi tengah malam belum tentu ada). Kami menikmati kopi sambil mendengarkan percakapan dialek jawa timuran pengunjung minimarket lain, di belakang tempat duduk. "Kon ki nyapo" dan dialek lainnya. Khas dengan nada agak tinggi. 

Setelah mereka pergi kira-kira pukul satu dini hari. Kami bunuh sepi dengan smartphone. Lalu lalang tukang ojek menawarkan jasanya, kami tolak halus. 

Nyamuk-nyamuk berdengung di telingaku. Aku makin asik dengan kopiku hingga habis. Kemudian Catur mengajakku ke bangku tunggu stasiun, dua puluh meter dari langkah kami. Dia pamit ingin tidur sekitar pukul 02.30 WIB. Tapi aku belum mengantuk. Sementara nyamuk kian meradang menghisap darah kami. 


Terima kasih.

Sunday, June 12, 2016

HAGIA, BARASUARA

Aku lupa sejak kapan mulai suka band indie. Grup musik yang menurutku, anti mainstream, tak seperti mayor label, yang ditentukan pasar industri musik. Kali ini aku temukan lagi, band indie dengan kualitas bagus.
Barasuara, sekumpulan pemain musik dari berbagai jam terbang.  Seperti pecahan kaca, mereka melebur membuat band dengan formasi Iga Massardi (vokal dan lead gitar), TJ Kusuma (gitar), Gerald Situmorang (bass), Marco Steffiano (drum),Asteriska (vokal), Puti Chitara (vokal). Jam terbang mereka ialah menjadi pengiring musik beberapa penyanyi dan musisi Indonesia.
Aku mau bahas lirik apik, di salah satu nomor mereka. HAGIA. List lagu nomor 4 di album Taifun ini akan aku bahas.


Simak lirik bawah ini :

Sempurna yang kau puja dan ayat-ayat yang kau baca
Tak kurasa berbeda, kita bebas untuk percaya
“Seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami”
Pada judul Hagia, aku usah search di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), namun tak ketemu. Aku coba gunakan Tesaurus, kumpulan sinonim kata dalam bahasa, juga tak temukan makna.
Cover album Taifun (barasuara.com)


Kemudian aku cari ke mesin pencari google, aku temukan simbol-simbol peradaban. HAGIA SOFIA. Bukti peradaban masa lampau yang sangat kental : dua budaya, nasrani dan islam dalam suatu bangunan. 


Dan ketika saya mengutip sebuah web. Saya agak tercengang. Ada doa nasrani. Ini dia liriknya:
Bapa kami yang ada di surga

Dimuliakanlah namaMu
Datanglah kerajaanMu jadilah kehendakMu
Di atas bumi seperti di dalam surga
Berilah kami rezeki pada hari ini

Dan ampunilah kesalahan kami
Seperti kamipun mengampuni
Yang bersalah kepada kami
Dan janganlah masukkan kami kedalam pencobaan
Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat

Aku tak berpikir ini murtad atau tidak. Bagiku, lirik di bait awal dan tengah itu, sangat relevan saat ini. Ketika orang sibuk membully temannya yang beda keyakinan, jawabannya tepat ada di bait terakhir.

http://mrgostuquwh.blogspot.com/2016/06/hagia-barasuara.html
Simak juga http://bit.ly/1VSqdyA

Monday, May 30, 2016

Berkunjung ke Suluk Maleman, Pati

Dua minggu sebelum tanggal 21 mei 2016, teman sufiku, yang biasa menyebut dirinya Nabi Palsu, di twitter berujar : Har, tanggal 21 mei aku ke Pati. Saya belum mengiyakan. Karena ada agenda lain membelitku. 

Sebulan sebelumnya, saya sudah buat jadwal. Agenda menonton konser. Tiket sudah kubeli, akhirnya kujual. Uang pembelian tiket saya donasikan ke komunitas saya, @compass507. Saya memilih menemaninya. Lalu saya putuskan melalui WA grup komunitas tersebut.

Saya pun sepakat pergi ke suluk maleman. Asal pagi 22 mei, saya juga harus ke Semarang. Temanku, Billy, mengundangku ke pesta pernikahannya. Kamipun sepakat di twitter. Tak lupa sabtu 21 mei pagi saya juga berpesan ke teman sufiku, harus ke Kudus menemui beberapa teman yang menagihku berkunjung, sebelum ke Pati.

dari samping kanan panggung saya duduk

Kami janjian melalui Line. 


Ada cerita lain, yang kubuat judul sendiri. Simak disini

Tanggal dua puluh mei, dia bakal ke stasiun. Tetapi berhubung teman sufiku bersilaturahim ke Tegal menemui saKulihat panggung a. Niatku menjemputnya gagal. Saya pun pulang ke Demak.


Sabtu 21 mei, setelah maghrib saya lanjutkan perjalanan. 

Tanpa tahu letak persis alamat Jalan Diponegoro 92, yang disebutkan @suluk_maleman di twitter. Saya kendarai supra 1997-ku ke Pati. 

Masuk gapura selamat datang kabupaten Pati. Saya berhenti, meminggirkan motorku. Cek GPS smartphoneku. Mencari nama jalan Diponegoro. Saya sempat berhenti sekaligus bertanya ke pengendara lain. Namun yang kutanya tak mengetahui alamat tersebut. 

Saya kendarai motorku melalui jalan satu arah menuju Surabaya, di Pati. Jalan yang kuingat jika saya ke Lamongan-Surabaya. Sesekali saya tengok papan nama pinggir jalan. Tertera Jl. Diponegoro. Tak jauh lagi saya sampai.

Saya ikuti arah roda motorku. Ketika mendekati Hotel Safin, ada mega pro berhenti. Seorang pemuda berbaju hitam. Saya tanya dia : suluk maleman di mana mas? Dia menunjuk ke kiri. 

Kulihat panggung dan umbul-umbul terpasang. Beberapa orang nampak sibuk menyiapkan. Saya lalu parkirkan motorku. Menunggu teman sufiku lalu menelponnya melalui line. "Sebentar lagi sampai har.." ucap teman sufiku di Line.

Sebelum acara dimulai

Sebelum acara dimulai. Saya pergi ke warung membeli rokok. Padahal tak jauh dariku ada minimarket, tapi saya memiliki warung kelontong. Ini caraku anti kapitalis. Tak membeli rokok di minimarket. Terkesan aneh. 

Saya ke arah utara traffic light. Cari warung kelontong membeli rokok. Agak susah memang. Karena tak kusangka banyak ruko besar, tidak jual makanan ringan atau rokok. Beruntung ada angkringan. Saya pun memesan kopi, sekaligus bertanya dimana warung kelontong. Dia menyarankan agar jalan lagi ke utara 15 meter. Saya pun ikuti dan meninggalkan angkringan itu. Sebungkus lisong dan sebotol air mineral.

Saya kembali ke angkringan. Meminum kopiku. Dia baru memasukkan kopi tanpa air panas. Sekembalinya dari warung, dia menuang air panas. 

Sepuluh menit saya minum kopi, sembari tunggu kabar teman sufiku. Dan kembali ke suluk maleman. 

Di depan halaman, saya cemas. Tak ada siapun yang kukenal. Sesekali saya lempar senyum ke beberapa orang yang nampak sibuk. Pukul 19.25 teman sufiku belum juga nampak. Saya makin cemas. Berkali menelpon LINEnya tak ada jawaban. 

Pukul 19.35 dia hadir di belakangku. "Naik apa dari hotelmu, om?" sambil kujabat tangannya. "Diantar teman twitter", jawabnya. Kami jalan menuju belakang panggung. Rumah pak Anis Soleh Baasyin. Sesekali ada yang meminta foto untuk dikirim ke twitter @suluk_maleman. Kami lepas sepatu, bersalaman ke pak Anis Soleh Baasyin. Pengasuh suluk maleman. Kami disambut olehnya.

Saya berkaos merah (sumber : twitter @suluk_maleman )

Sumber : twitter @TerajuIndonesia

Kami pun bercerita banyak di sini. Saya menanyakan perkembangan Rembang dan Pati pada Pak Anis . Pak Anis beri keterangan yang beda dari teman-temanku di Semarang. Kami juga disuguhi kopi dengan racikan rempah.

Kami pun kedatangan pak Prie GS, kolumnis Suara Merdeka. Tak lama berselang, pak Haidar Bagir, pemilik mizan, juga menemani kami. Obrolannya berkutat pada penerbitan buku dan dunia islam. Juga tema malam ini : Cinta di dunia yang terancam, sekaligus peluncuran buku antologi "mata angin mata gelombang".



Obrolan makin intens, saya memilih keluar. Karena waktu menunjuk pukul 21.30. Saya memilih duduk sebelah depan kanan panggung. Persis di foto pertama di atas.

Pak Anis memantik tema dengan mengutip pendapat salah satu ulama : ilmu pengetahuan bagai pisau bermata dua, baik atau buruk. Kemudian melanjutkan tema dengan cerita wujud cinta secara universal.

Pak Anis kemudian mempersilakan om Edy A Effendy. Om Edi memaparkan sisi pewarta berita. Dia mengajak para hadirin untuk memilah berita. Kemudian dia juga mengungkapkan kegelisahan dunia penulisan. Penyair akan disebut penyair jika dia telah mencetak banyak buku. Dia mencontohkan penyair Amerika, mampu menuangkan kegelisannya ke dalam syair tapi berulang kali ditolak oleh penerbit. 

Paparan dari sisi media : tulis dan pewarta telah diungkap om Edy. Pak Anis memaparkan ulang apa yang disampaikan om Edy. Kemudian mempersilakan Pak Prie GS sebagai narasumber kedua.

Cerita lucu keluarga kecil pak Prie tak luput diceritakan. Pengalaman mendidik anaknya dan cerita dalam beberapa bukunya.

Pak Anis lalu mempersilakan pak Haidar Bagir. Beliau dengan tenang menyampaikan ceramahnya. Saya agak bingung. Karena pak Haidar menyampaikan ilmu tasawuf. Beliau juga mengutip pendapat Ibnu 'Arabi dan cerita pengalaman kuliahnya di Amerika. 

Malam kian larut. Pukul 01.00 Pak Anis mempersilakan hadirin bertanya apapun terkait tema : Cinta di dunia yang terancam. 

Ada hadirin bertanya dari sisi pribadinya yang jomblo, penghormatan kepada orangtua, hingga syiah.

Pak Prie GS menjawab penanya yang jomblo dengan cerita cinta pada sang istri. "Saya menjomblo hingga usia 29 tahun"

Cerita setelah pulang dari suluk maleman dan ke resepsi temanku, billy.






Friday, May 27, 2016

Silaturahmi ke Sekolah dan Temanku

Baca sebelumnya Malaikat di Kesialanku

Paginya, saya bangun. Mandi, siapkan beberapa stel pakaian. Tak lupa minta saku mingguan ibuku. Tiap minggu saya meminta Rp. 100.000,00, untuk kebutuhan makanku di Semarang. Saya masih punya sisa saku di lemari. Ku simpan uang itu untuk ke pesta pernikahan temanku.

Saya berangkat pukul 09.10 pagi dari rumah menuju Kudus. Lebih kurang Satu jam menggunakan motorku. Motor pemberian kantorku. Supra 1997. 

Saya ikuti jalani hingga Kudus menuju Pati. Saya memilih jalan lingkar Kudus-Pati. Sesampainya di lampu Megawon. Saya ingat jika hari itu sabtu. Saya pun membelokkan ke jalan Jenderal Sudirman Km.4 ke arah barat traffic light Ngembalrejo.

Cukup 3 menit dari belokan traffic light ini. Saya masuk ke halaman sekolahku. SMA 1 Bae Kudus. 

Kuparkir motor di halaman parkir guru. Saya buka helm. Tukang kebun yang dulu, hingga saya lulus 2009, menyapaku : soko ngendi mak? (Dari mana mak (mak = Demak, nama kotaku, panggilan akrabku)) 
"Dari rumah." Jawabku.

Kami berbincang sebentar. Nostalgia. Saya lalu pamit. Masuk ke ruang guru. Kusapa satu persatu guruku. 

Diam sambil berjabat tangan, saya mengingat nama guruku. Saya buka memori otakku. Guru yang kutemui ini, dulu mengajar apa?. Terus saja saya membuka ingatan hampir 7 tahun lalu.

Wali kelas, 12 Ips 1 hingga 12 IPS 4. Masih kuingat. Bu Asri, bu Dewi, Pak Bambang (wali kelasku 12 IPS 4), kebetulan wali kelas 12 IPS 2 tak ada. Tak lupa satu guru, yang selalu kukunjungi ketika bada lebaran : Ibu Alfiah. Wali kelasku saat kelas 10-8. Dia bagai Ibuku. Entah energi apa yang buat saya mengaguminya. Aku suka doanya, setiap bersilaturahmi : Semoga menjadi orang sukses dan berguna !

Tak semua guru saya salami. Karena beberapa dari mereka tergolong baru. Malah ada temanku, di IPA 3 jadi guru. Saya lupa namanya. 

Setiap saya salami. Mereka mengingat. Saya juga. Pertanyaan dari mereka tergolong klasik. Kamu kerja, kuliah, atau bagaimana?.

Saya pun jawab ulang ke setiap guru : Saya kuliah di Universitas (tak kusebut namanya) jurusan teknik. Angkatan 2011, baru 5 tahun.

Tanggapan mereka : kamu dulu IPS, kok bisa masuk teknik. Saya beri alasan masa depan: kebetulan peluang kerja di teknik makin banyak.

Setelah di ruang guru saya pamit. Berkeliling sebentar. Update ke path. Kemudian ke koperasi, gedungnya berganti dan dipindah sejak 2012. Pengelola koperasi ini dua wanita.  Lagi-lagi saya tak ingat namanya. Hanya mengingat wajah mereka. Mereka ingat saya, tanpa nama. 

Puas ketemu mereka semua. Saya berkeliling. Bangunan sekolahku nampak berbeda. Jauh lebih baik.

Saya kembali ke parkiran, merekam salah satu sudut sekolahku.

Saya temui kembali tukang kebun di parkir sekolah. Masih seperti dulu. Hanya gurat wajah dan uban nampak di rambutnya. Pak Mus.

Selesai menemui pak Mus dan satpam. Saya pamit menuju Jekulo sebelum ke Pati, mampir ke temanku, Baskoro.

Lebih kurang lima belas menit kutempuh. Sambil mengingat rumahnya. 

Di pintu gerbangnya, saya peradukan gembok dan pintu besi. "Dak..dak..dak.."

Temanku baru bangun tidur. Sementara waktu menunjuk pukul 11.36. Saya dipersilakan masuk, dan kuparkir motorku di halamannya yang luas.

Dia tanya alasanku berkunjung dan menawariku minum. Sempat cerita dia mengontak beberapa teman. Saya mengiyakan dan akan berkeliling hingga magrib. Karena saya akan ke Pati. 

Dia pamit mandi. 

Saya sibuk mengamati smartphoneku. Satu pesan di LINEku. teman sufiku beri pesan sudah sampai stasiun Poncol. Dia menanyakan padaku arah ke Pati. Saya tunjukkan angkutan menuju terminal Terboyo, lalu ke Pati, harus naik apa.


Setelah itu temanku keluar temuiku. Mengobrol ngalor-ngidul. Dan mengajakku ke sebelah teras, tempat nongkrong kami. Dia mengambil laptop kerjanya. 

Teman yang dikontak tiba. Anjar. Dia bekerja di salah satu bank swasta di negara ini. Kami saling menimpali kesibukan masing-masing. Di teras tempat nongkrong kami, dia mengambil gitar kesayangannya. Kami jamming hingga magrib.

Malaikat di Kesialanku.

Sepulang dari Yogyakarta, setelah bersilaturahmi ke maiyahan Yogyakarta, dan temanku hingga beberapa hari. Aku pulang bada salat jumat dari terminal Jombor menuju Sukun, Banyumanik. Saya lupa mengontak teman sufiku . Lupa dia sudah sampai mana.

Ada kisah menarik buat saya setelah dari Yogyakarta. 
"Saya sampai sukun, Banyumanik pukul 17.00 WIB. Turun dari bus. Saya kemudian menuju angkutan kota (angkota) menuju Jatingaleh. Sialnya angkota itu ngetem agak lama. Saya belum salat duhur dan ashar. Lupa jamak qashar.
Saya sempat menanyai supir angkota. Perkembangan dari masa ke masa, pekerjaannya. Dia mengungkapkan kegelisahan setelah kendaraan makin memenuhi jalan.
Selang 10 menitan dia supiri angkotanya. Melewati lampu merah tugu Diponegoro Tembalang menuju turunan Gombel dan sampai Jatingaleh. Saya turun, memberinya pecahan 5000 tanpa kembalian. Agak mahal angkota ini!.

Jalur perempatan PLN Jatingaleh padat. Mobil yang keluar tol memadati pintu keluar. Untuk menyeberang menuju stadiun jati diri -jalan lebih mudah menuju sampangan- saya harus menghentikan salah satu mobil. Polisi kewalahan.
Saya pun jalan kaki. Kulihat angkutan ngetem. Ketika kudekati kosong. Tak bersupir. Kesialan beruntun buat saya. Saya teruskan jalan. Tak lupa mengontak temanku. Namun temanku menolak membantuku. Makin sial hari ini. 
Saya terus susuri jalan ini. (Terus terang saya buta nama jalan, jadi tak mengenal nama jalan kulalui ini.). Jalan terus hingga menuju Unika. Jalanan menanjak. Saya lumayan capek memanggul tas dan membawa helm. Dari Yogyakarta belum makan. Tanpa asupan apapun selama perjalanan. Uang tinggal beberapa ribuan saja. Saya ingat bahan bakar motorku. Ingin mampir minimarket atau warung. Saya tahan. Berharap ada yang berhenti menolongku. 
Tepat di depan pintu Unika. Saya berhenti sejenak. Berpikir dan merapal doa. Hingga kuucap : ratusan kendaraan lewatiku. Tak satupun ingin menolong orang, sepertiku.

Saya jadi ingat tragedi jalan ini. Banyak begal. Apa ini penyebab mereka tak menoleh dan membantu.

Saya pun terus jalan. Hingga turunan Unika. Ada wanita menggunakan matic diam, menunggu seseorang. Ketika dekat dia berbicara padaku. Saya mengira dia tersesat.

Dia : mas, mau kemana?
Saya : sampangan mbak. Bagaimana mbak?
"Kalau dari jembatan besi ke kanan atau ke kiri", lanjutnya.
Ke kanan. Kenapa memangnya? tanyaku.
Dia : Kalau berkenan, boleh saya bantu. Aku antar, ajaknya.
Boleh. Terima kasih.
Mas bisa mengendarai motor kan?
Saya : Bisa. 
Kami pun berboncengan. Saya mengendarai motornya. Dalam pikiranku : nih orang baik sekali. Apa penyebabnya ya?

Kemudian saya pun bertanya : mbak enggak takut? Di sini kan rawan begal. Enggak curiga sama saya? Atau bagaimana ?
Dia : kemarin sih mas, kata temanku, ada ibu-ibu dibegal. Luka di kepalanya. Saya tadi lihat mas jalan dari atas. Kukira mas sama temanmu, kok bawa helm. Ketika di bawah tanjakan. Eh mas sendirian. Naluriku ya menolong mas. Kadang tiap di jalan ketemu bapak-bapak atau siapa pun di jalan, pasti kuboncengi. Kuantar mas.

Saya diam sejenak. 
Kutanya lagi : maaf mbak jadi ngerepoti. Omong-omong mbak asal dari mana? Kuliah, kerja?
Dia : saya dari lombok. Kuliah di Universitas Negeri Semarang.
Saya diam beberapa menit kemudian mengangguk.
Lombok, NTB mas. Mas dari mana? Kok bawa helm sendirian? lanjutnya.
Saya : jauh juga ya mbak. Saya dari Jogja. 
Saya pun ingat beberapa teman Lombok di Jogja. Ingin tanya padanya. Tapi saya tak enak.
Iseng kemudian saya tanya : Tahu tembakau Senang?
Dia diam belum menjawab. Selang beberapa detik dia jawab :
Maaf mas. Saya tak tahu tembakau itu. Mas tadi pulang dari Jogja. Penelitian?
Enggak mbak. Saya cuma main dan berkunjung ke temanku. Saya janji pada mereka berkunjung. 
Dia : Eh mas, asli mana kok, sampai jogja.
Demak mbak.

Sampai di pertigaan jembatan besi. Saya ingin turun. Kasihan dia jika harus ke atas, Unnes."

Obrolan ringan kami lainnya berlanjut hingga tak terasa saya berada di depan asramaku. Berulang kali saya ucapkan terima kasih.
Kami pun tak saling mengenal. Tak menanyai namanya. Hanya saja saya berharap pada Tuhan, kelak kami bertemu lagi. 

Siapa pun kamu. Entah membaca ini atau tidak. Kamu masih terngiang di pikiranku. Terima kasih mbak.


Versi media sosialku : Path yang sinkron ke fb, dan tumblr.








Lanjutan ceritanya :
http://mrgostuquwh.blogspot.com/2016/05/berkunjung-ke-suluk-maleman-pati.html

Wednesday, April 27, 2016

Steller, Generasi Micro Blogging Baru?

Seorang kawan ngepost link website. Saya pun coba klik. Agak asing. Media sosial baru, menurutku. Saya gunakan google chrome sebagai peramban. Saya pun kemudian daftar dengan sign in with facebook
Blar. Begini tampilannya.

Jika dilihat di lamannya (www.steller.co), Steller adalah sosial media berbasis foto, video, dan teks. Gabungan ketiganya ini akan menjadi semacam majalah atau album mini. Jadi, kamu bisa memasukkan foto dan videomu serta menyertakan cerita pendek di balik foto dan video tersebut. Bisa jadi semacam diari perjalanan juga.

Setelah path, Instagram dan beberapa media sosial lain. kini, Steller.co mulai merambah Indonesia. Tawaran tawaran media sosial dengan fitur masing-masing menjadikan pegiat sosial media melupakan diri sendiri dan orang lain.

Tak dipungkiri sayapun terjebak.

Tuesday, April 26, 2016

Sebelum acara Gambang Syafaat April

Jaringan komunikasi grup WhatsApp selalu menyenangkan. Hadir memberikan informasi. Salah satu grup yang menurutku sedikit berbeda dengan grup lain adalah Forum Komunikasi Gambang Syafaat. Gambang syafaat adalah Simpul maiyahan Nusantara area Semarang dan sekitarnya.

Maiyah Nusantara ialah pengajian dan ruang diskusi publik di bawah naungan Cak Nun yang tersebar di beberapa daerah.

Mengapa berbeda? Karena perlahan-lahan saya mulai belajar intelektualitas dasar Islam yang dikaji jaringan ini. Agak konyol sebetulnya jika dibandingkan dengan pengajian lain. Pengajian lain, mungkin, dituntut untuk menerima apapun dari apa yang dibicarakan. Namun dalam maiyahan justru siapapun yang datang, setidaknya, memikirkan apa yang dibicarakan. Kadang malah makin mumet memikirkannya setelah pengajian.

Pengajian pun kadang diselingi guyonan jawa yang turut menyegarkan jamaah sehingga durasi 4 jam tidak terasa menjenuhkan.

Saya akan bercerita sedikit mengenai grup WhatsApp tadi. Sejak saya dimasukkan grup itu 4 April 2016. Saya mulai berinteraksi dengan tim Gambang Syafaat. Mulai bertanya proses sebelum maiyahan, yang diselenggarakan setiap bulan pada tanggal 25 Masehi, hingga acara tersebut dimulai.

Kebetulan malam lalu (25 april), salah satu admin grup, Ali Fatkhan, mengajak penghuni grup untuk bercengkerama. Kami pun dikumpulkan di sekretariat Ikatan pemuda Masjid Baiturrahman (IKAMABA) setelah maghrib. Beberapa orang dalam grup hadir.

Saya yang kebetulan datang lebih awal menyempatkan bertanya-tanya. Ibarat anak baru dalam sebuah organisasi. Maksud tujuan hingga nanti apa yang perlu dibantu.

Ali Fatkhan, yang kebetulan ditugasi sebagai pemantik tema, bercerita gabungnya dia di Gambang Syafaat. "Saya baru sebelas bulan ini bergabung intens di Gambang Syafaat. Karena makin tertarik saya pun ikut kecemplung dengan kegiatan-kegiatan ini" ungkap Ali Fatkhan. Menurut penuturannya, dia terjebak sebagai pemantik tema karena pos itu yang belum terisi. Penggiat Gambang Syafaat, harus mau mengorbankan diri (menabung kerelaan, maksudnya) untuk menjaga agar kegiatan maiyahan berjalan setiap bulannya.

Kemudian dia pun menyampaikan maksud dikumpulkan teman-teman di grup. "Setiap anggota penggiat Gambang Syafaat, sudah dapat plot masing-masing. Tetapi ada satu yang kurang di Gambang Syafaat ini. Kami harap ada teman-teman yang nanti di grup bisa ikut andil. Terus terang, kami kekurangan bagian reportase." terangnya.

Selang beberapa menit. Azis dan Sentosa datang disusul kemudian Yusuf, Alumni UIN walisongo, turut hadir juga. Setiap orang diminta untuk cerita latar belakang dan ketertarikan ke Gambang Syafaat.

Azis pun bercerita. "Saya sering kali ke Mocopat Syafaat (Kasihan, Bantul) setiap tanggal 17. Dan setiap tanggal 25, dan sebisa mungkin meluangkan waktu di Gambang Syafaat".

Obrolan ini berlanjut hingga adzan isya berkumandang.

Kami diberi informasi menarik dari Ali Fatkhan.
"Maiyahan, ibarat warung yg menyediakan nasi pecel prasmanan, setiap jamaah meramu sendiri dg takaran masing2. Sedangkan pengajian lain ibaratnya menyediakan Siomay dan Bakso, yang sudah siap saji paket menunya. Di Maiyahan kita boleh makan, dengan porsi berbeda-beda. Mau makan sampai kepedasan atau tak habis juga silakan " lanjut Ali Fatkhan.

Karena di IKAMABA tidak ada pengisi dahaga. Kami diajak ke warung padang, belakang IKAMABA, yang berjarak tak kurang 10 meter.

Obrolan dilanjutkan di warung Padang ini.

Teman Azis dan Sentosa juga hadir, aku lupa namanya, di warung ini. Ali fatkhan pamit izin ke toilet. Kami ceritakan pengalaman kami di setiap maiyahan yang kami hadiri.

Selang lima menit kemudian, Ali Fatkhan, kembali. Kami ngobrol ngalor ngidul, apa saja. Sedang asyik mengobrol, Ali Fatkhan menerima telepon. Seseorang di seberang telepon, yang akhirnya kami ketahui, tak lain Drs Ilyas, dosen hukum Unnes. Sarung batik dan baju putih, dengan badan agak subur ini, menemui kami. Kemudian berjabat tangan. Satu per satu dari kami ditanyai mengenai latar belakang.

Saya pun tak luput dari pertanyaan sederhananya : Sibuk apa mas, kuliah, kerja?. Karena pak Illyas duduk dekatku. Dia menanyaiku pertama.

Saya pun menjawabnya : Kuliah di (....) (menyebut salah satu universitas swasta di Semarang), jurusan teknik, pak.
"Siapa nama rektormu?" lanjutnya.
Saya mengingat nama rektorku. Terus terang, aku tak ingat namanya. Karena kelemahanku mengingat nama seseorang yang tak kukenal baik. Dan kebetulan rektor lama ganti rektor baru, rektor lamaku, Noor Ahmad baru saja dilantik jadi DPR RI, sehingga rektor baru saya tak ingat.

Saya alibi pada pak Ilyas. Kemudian pak Ilyas, berkomentar : "wong rektornya sendiri saja tidak tahu. Itu ironi bagi mahasiswa". Komentarnya bernada guyon. Namun pukulan bagiku.

Pak Ilyas menjelaskan berbagai polemik mahasiswa saat ini. Mahasiswa kehilangan jati diri sebagai Maha-Siswa. Sengaja aku tulis seperti ini, sebagai tanda kebesaran siswa, yang dianggap agent of change . Namun nama rektor tak dikenal.

Obrolan gayeng pun harus kami akhiri mengingat maiyahan 25 April 2016 segera dimulai, dan jam dinding menunjukkan pukul 20.10. Dan bertajuk Tadabbur Selfie

Friday, April 15, 2016

Kenangan di Kudus

Smartphone bergetar pukul 20.00, pemberitahuan dari Line. Sepupu beri kabar agar saya ikut truknya. Saya lalu telpon kantor untuk pastikan truk berangkat. Eh gak nyangka jam delapan tadi truk sampai Kudus. Saya bergegas menemuinya ke Kudus. Mampir bentar, minum es jeruk di angkringan langganan. Segelas es jeruk cukup mengisi kerongkongan.

Selesai minum saya menyetop bus di pinggir jalan. Tak lama pukul 20.38 saya dapat bus. Naik bus dengan ongkos Rp. 7.000 (sewaktu SMA di kudus, sampai 2009, ongkos Rp. 3000).

Pelan bus merambat di jalan. Tak terasa setengah jam saya berdiri diantara penumpang lain. Agak pegal. Karena Dua puluh kilometer lebih saya berdiri.

Sesampai di Kudus. Saya minta turun di RS Mardi Rahayu. Depan RS. Mardi Rahayu, biasanya truk kami, parkir untuk isi es batu. Belum sampai mardi rahayu, bus yang saya tumpang berbelok arah kanan menuju lingkar tanjung dari Lampu merah perempatan PT. Pura Barutama, Jati.

Sial. Kondektur memaki supir yang tak memberitahu akan lewati situ. Sayapun bergerak turun diantara sesaknya penumpang bus. Gantian saya mengumpat : "Sial!! Kenapa harus diturunkan di sini."

Sayapun harus berjalan kaki dari lampu merah ini menuju pabrik es yang berjarak hampir 2km. Agak cepat saya jalan. Sembari mengingat masa silam di Kudus. Sepanjang jalan beberapa bangunan nampak baru. Tak seperti saat saya sekolah, dulu.

Jika jalan kaki seperti ini. Saya akan Flasback masa di sekolah. Dulu, tiap pagi, saya juga harus jalan kaki hampir dua kilometer, di pinggir jalan menuju sekolah, tanpa rasa capek. Dan Sekarang terulang. Tapi lumayan pegal untuk berjalan kaki.

Hampir 15 menit kaki melangkah. Saya melihat truk kami, terparkir di Pabrik es.
Karena kebetulan supir baru, saya sempat salah menyapa orang. Orang yang kusapa bukan supir truk tersebut. Tetapi, pegawai pabrik es. Agak canggung. Saya pura-pura kenal saja dan mengobrol.

Banyak cerita yang diungkapnya. Satu persatu memori muncul, sembari ingat beberapa tempat. Dia agak kaget, ketika saya tahu nama-nama tempat di kota ini. Djarum, Pabrik Gula Rendeng dan nama lain. Desa dengan hasil panen tebunya. Letak strategis pabrik rokok berdiri hingga nama sekolahku.

Kudus, 15-04-2016
Mampir kesini ya.